SRI MEMILIH
Sri meletakkan mata pisau penyadap karet, pada ujung bekas sadapannya kemarin. Karet yang sudah kering itu ia tarik. Pisaunya berjalan maju melukai kulit pohon. Terlihat aliran getah karet menuju pada tempurung. Dari satu pohon ke pohon lainnya ia lakukan dengan hal yang sama.
Janda beranak dua itu kini berjuang menyekolahkan anak-anaknya sendiri. Sri memilih membesarkan anaknya dari kebun karet peninggalan suaminya. Ia selalu teringat ucapan almarhum suaminya, baik berjagung-jagung sementara padi belum masak. Ia dan anaknya sudah terbiasa hidup sederhana. Hidup di Kampung Cikondang yang berdampingan dengan kebun karet, tidak menyulitkan Sri. Ketika tidak ada untuk dimasak, ia menyusuri tepian sungai kecil di kebun karet untuk mencari pakis atau mencari rebung, terkadang ia dibantu anaknya untuk mencari ikan-ikan kecil seperti sepat atau wader.
Hamparan kabut tebal terlihat jelas oleh Sri. Hawa dingin menusuk raga. Tetesan embun jatuh membasahi tanah. Nyamuk-nyamuk mengikuti langkah Sri yang berpindah dari satu pohon karet ke pohon lainnya. Rutinitas ini sudah ia lakukan lebih dari dua puluh tahun. Namun dua tahun terakhir, rutinitas ini terasa berat oleh Sri, tersebab ia melakukan sendiri tanpa suami. Ia berharap hari ini tidak hujan. Jika hujan maka getah karetnya di dalam tempurung tidak membeku.
“Sri, apakah sudah kau pikirkan lagi tawaran Bang Niko?”
“Sudah Om, jawabanku masih sama.”
“Cobalah kau pikirkan lagi, sampai kapan kau menyadap karet?”
Banyak pria yang datang pada Bambang menanyakan keponakannya yang janda itu. Mulai dari yang seumuran dengan Sri hingga sama tua dengan ayahnya. Bambang terus mencoba membujuk Sri saat mereka istirahat di pondok kecil sesudah menyadap karet.
Matahari mulai naik. Sri membawa ember yang ada di pondok kebunnya itu. Ia mulai mengambil getah karet yang berkumpul di tempurung tiap pohon. Ember penuh. Sri menyusun getah karet itu pada sebuah cetakan. Cetakan yang dibuat dengan menggali tanah. Sebelum getah karet itu disusunnya, ia sudah meletakkan tali di dalam cetakkan itu, agar nanti mudah untuk mengeluarkan karet dari cetakkan. Ia kembali mengutip getah karet pada tempurung yang lain. Tiga ember getah karet ia dapatkan pada panen kali ini.
Bongkahan getah karet itu ia bawa ke tauke yang sudah siap membelinya.
“Berapa kilo karet saya, Mas?” tanya Sri sambil memperhatikan timbangan.
“Dua puluh enam kilo, Sri” jawab tauke dengan pandangan gombal.
“Berapa sekilo sekarang, Mas?”
“Kalau karet orang lain saya beli lima ribu lima ratus, tapi khusus untuk Sri saya kasih harga spesial yaitu enam ribu.” Sri terdiam. Ia menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca sambil melihat bongkahan karet yang terapung di kolam.
Bau getah karet menusuk hidung yang dirasakan Sri, sama dengan harganya. Ia kembali ke rumah dengan membawa uang seratus lima puluh enam ribu rupiah.
“Mak, bagaimana dengan uang masuk kuliahku?” tanya putri sulungnya.
“Uangnya sudah ada separuh, doakan saja hari tidak hujan, jadi emak bisa nyadap tiap hari,” jawab Sri sambil membersihkan lumpur yang menempel di kakinya.
“Jangan lupa baju seragama SMA aku ya, Mak.” Anak bungsu Sri juga mengajukan permintaan.
“Iya, Dek, kamu bantu doa saja, emak sudah perkirakan itu semua.”
Sri ingin kedua anaknya menjadi sarjana. Cukup ia saja yang tamat SMP. Nasib anaknya harus lebih baik dari dia. Bagi Sri pendidikan adalah kekuatan dan senjata yang ampuh untuk mengubah keadaan hidup anaknya.
Dua pekan berlalu. Mujur sepanjang hari, malang sekejap mata. Musim kemarau berakhir sudah dan musim hujan datang menghampiri. Sri tidak bisa menyadap karet setiap hari lagi. Di pondok tengah kebut karet itu, pandanganya tertuju pada pohon-pohon karet yang tersusun. Ia tidak melakukan apa-apa. Pohon karet basah karena semalam hujan. Jika ia paksakan untuk menyadap pagi ini, maka akan sia-sia saja. Getah karet tidak akan menuju sudu tapi melebar ke mana-mana. Ia memutuskan untuk mencari pakis.
Sungai kecil yang ada di kebun karet itu, ia susuri. Ia berhati-hati untuk menginjakkan kakinya di bebatuan karena licin. Air sungai yang segar menyejukan hati Sri yang sedang bimbang. Pucuk pakis yang ia patahkan, ia letakkan dalam kantong kresek. Pacet yang hinggap di kakinya tidak menghalangkan langkah Sri untuk terus mengumpulkan batangan pucuk pakis itu.
Pucuk pakis yang terkumpul itu setidaknya bisa menjadi sayur sebagai teman nasi untuk dimakan. Pakis dalam kresek itu terasa berat bagi Sri dalam melangkah pulang. Bukan karena pakis itu banyak tapi karena pikiran Sri yang sedang mencoba memutar otak untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya. Sebelum sampai di rumahnya, Sri memutuskan untuk singgah di rumah panamnya.
“Om, adakah uang yang bisa saya pinjam?”
“Kalau untuk sekadar makan, saya bisa pinjamkan, tapi untuk biaya sekolah anakmu itu tidak ada, kamu tahukan sekarang musim hujan. Cobalah kamu pikirkan lagi tawaran Mas Niko atau kau terima tauke karet itu. Biar hidupmu tak susah seperti ini.”
“Saya menolaknya bukan karena umur Mas Niko yang sudah berkepala tujuh atau saya menerima tauke itu tersebab harta, tapi saya tidak mau mengkhianati almarhum Mas Adi, walau ia sudah tidak ada tapi cinta dan kasihnya tidak pernah hilang dalam hati saya.”
Pilihan yang sulit membuat Sri belum memejamkan matanya hingga tengah malam. Ia memandang dua anaknya yang sedang tidur.
“Andai Mas Adi masih ada, aku masih punya teman untuk berbagi kesulitan ini. Mas, lihatlah anak kita, ia sedang butuh banyak biaya untuk pendidikannya. Bukankah ini cita-cita kita dulu untuk berjuang bersama dalam menyekolahkan mereka, Mas? Aku butuh bahumu Mas untuk bersandar menceritakan ini semua.” Air mata jatuh di pipinya, sembari raganya ia sandarkan di dinding, cahaya temaran lampu lima wat dan heningnya malam, membuat kerinduan Sri makin mendalam.
Waktu masuk sekolah dan kuliah semakin dekat. Sri hilang cara. Ia dihadapkan dengan pilihan yang berat. Jika ia menjual kebun karetnya itu, lantas ia akan mencari uang dari mana lagi untuk menyambung hidupnya. Sebab hanya itu satu-satunya yang ia miliki. Jika ia menerima tawaran Mas Niko, hidupnya akan berubah karena Mas Niko duda kaya dikampungnya. Namun ia tidak mau menikahi lelaki seumuran dengan ayahnya. Kalau ia menjadi istri kedua tauke karet, tentu ia tidak perlu lagi menyadap karet setiap pagi dan kebutuhan anaknya akan terpenuhi. Tapi Sri tidak mau. Ini bukan hanya sekadar uang melainkan cinta yang berprinsip. Bagi dia, ketika kehilangan seseorang yang dicintai, kita harus belajar untuk tidak hidup tanpa mereka, tetapi untuk hidup dengan cinta yang mereka tinggalkan.
Sri mendatangi rumah Mas Niko. Ia membawa surat dalam map. Berharap rencananya berbuah manis.
“Mas, saya sedang butuh uang untuk anak-anak sekolah dan kuliah. Saya hanya punya kebun karet. Ini sertifikat kebunnya. Saya mau gadaikan kebun ini.”
“Bawa saja sertifikatmu itu pulang Sri. Kamu butuh berapa? Saya akan beri.”
“Maaf Mas, saya tidak bermaksud meminta, tapi meminjam uang dengan jaminan kebun saya.”
Sri tidak mau jika hanya diberi uang dengan cuma-cuma. Apalagi ia tahu bahwa Mas Niko tertarik padanya. Sri menolak pemberian itu demi harga dirinya. Ia kembali ke rumah dengan kecewa dan kesal.
“Mak, apakah sudah ada uang untuk daftar aku kuliah? Pekan depan waktu terakhir pembayarannya,” tanya putri sulungnya.
“Mak sedang berusaha.”
“Jika tidak ada uang, tidak apa-apa Mak, saya cari kerja saja. Uang yang ada untuk beli seragam dan keperluan adik saja,” putri sulung Sri memberikan pengertiannya.
“Mak terus berusaha sayang, kamu harus kuliah, itu impian Mak dan almarhum ayahmu.”
Walau Sri tahu untuk mendapatkan uang dengan jumlah besar dalam waktu sebentar tidak mudah. Tapi dia tidak mau anaknya patah semangat untuk berkuliah. Ia terus berusaha mencari pinjaman.
“Mas, saya tahu hutang saya sudah banyak di sini, tapi apakah boleh saya menambah lagi Mas? Ini untuk keperluan anak saya sekolah” Sri menemui tauke karet.
“Sri, berkali-kali Mas sampaikan dengan Dek Sri, jangan sungkan-sungkan untuk meminjam uang dengan Mas, jangankan meminjam Sri, Mas akan beri berapa saja kebutuhan Sri. Inikan untuk anak-anak kita juga nanti. Anak Sri nanti akan menjadi anak Mas juga.”
“Maksudnya Mas?”
“Paman Sri, Mas Bambang pasti sudah memberi tahu Sri. Mas butuh Sri mendampingi Mas di sini. Mbak Mira tidak bisa memberikan Mas keturunan.”
Bukan uang yang diberikan tapi curhatan tauke yang Sri dapatkan. Sri kembali ke rumah pamannya untuk menyampaikan keluh kesah dan usaha yang sudah ia lakukan. Hanya paman kerabat Sri yang masih ada. Sri menceritakan ketika ia ke rumah Mas Niko dan tauke.
“Sri, ini saatnya kau untuk menentukan pilihan. Anak-anakmu sekolah atau tidak.”
“Saya tentu memilih anak-anak bisa sekolah dan masa depan yang lebih baik daripada saya.”
“Kau pilih Mas Niko atau tauke?”
“Tidak keduanya.”
“Kau mau apalagi? Mas Niko itu duda dan penyayang, istri tauke itu tidak dapat memberikan keturunan. Keduanya tidak ada yang akan menjadi penghalang, jika kau mau jadi istrinya. Kau tinggal pilih.”
Bukan air untuk pelepas dahaga di tengah gurun yang ia dapatkan, tapi badai kebingunan yang semakin kencang. Jawaban pamannya mulai menggoyahkan pendirian Sri. Apakah memang ini jalan satu-satunya? Menjadi istri lelaki tua untuk anak-anak bisa bersekolah atau menjadi istri kedua agar hidup bisa berubah. Di tengah kebimbangan itu, Sri melangkah ke sebuah bank. Ia berharap dapat meminjam uang dengan sertifikat kebunnya sebagai anggunan.
Sri tidak menyangkan hidupnya akan seperti ini. Pihak bank menolak permohonan pinjaman Sri dengan alasan kebun karetnya itu tidak menjanjikan. Karena akses ke kebun itu masih belum memadai dan pihak bank tidak tertarik. Langkah Sri menuju rumah makin berat.
Hujan turun di pipi Sri. Keheningan menambah kesedihan. Di atas sajadah ia curahkan semuanya. Malam itu penuh dengan tumpahan elegi yang tak tertahan. Seusai menegadahkan tangan pada Yang Maha Kuasa, ia mengambil pigura saat momen pernihakan dulu dengan Mas Adi. Hidup bersama Mas Adi adalah bab terindah dalam hidup Sri. Kini Sri telah beranjak ke bab berjuang tanpa Mas Adi. Sri terlelap di atas sajadahnya dengan memeluk pigura itu.
Suara mesin pemotong pohon terdengar di kebun karet milik Sri. Satu persatu pohon karet itu tumbang. Belasan orang mengangkat potongan pohon karet itu ke dalam truk. Harga karet yang terus turun dan ditambah dengan musim hujan sehingga ia memutuskan untuk menebang semua pohon karet itu. Ia menjualnya ke pengepul kayu bakar.
Di pinggir kebun itu Sri berdiri. Ia merintih. Tangannya menggenggam lembaran rupiah. Dalam hamparan yang kini hanya berupa tunggul pohon karet, Sri melihat masa depan anaknya, beras dari hari ke hari, uang masuk kuliah dan seragam yang bisa terbeli dan sedikit sisa uang untuk modal berkebun palawija. Sri tumbang bersama pohon karetnya dalam menyekolahkan dua anaknya. Ia juga ikut terpotong dalam lima atau tujuh bulan kedepan. Tapi ia masih punya semangat dalam balutan cinta almarhum suaminya yang membekas dan mengakar seperti tunggul pohon karet itu.
Keterangan : Cerpen pemenang juara 2 pada lomba Tingkat nasional yang ditaja oleh Universitas Al Azhar Indonesia Tahun 2023