Mahalnya Kesopanan di Bangku Perkuliahan
Catatan Seorang Mahasiswa
Anda pasti pernah pergi ke bank atau kantor asuransi atau kantor instansi yang di kelolah oleh swasta. Dan Anda juga pernah menemukan betapa ramah dan sopannya para pegawai. Mereka akan menyambut Anda dengan senyum yang merekah, mengucapkan salam, menanyakan kabar, atau akan menunjukkan seolah-olah Anda orang yang mereka tunggu kedatangannya. Tentu hal ini menjadi sebuah kenyamanan dan kedamaian bagi diri Anda.
Mengulik Kesopanan dalam Dunia Pendidikan (Perkuliahan)
Kurikulum yang disajikan pada siswa selalu menitikberatkan pada karkater atau sikap atau afektif. Meski setiap kurikulum memiliki penamaannya masing-masing, tapi benang merahnya tentang bagaimana interaksi dengan manusia.
Secara spesifik, materi pelajaran memang tidak ada yang mengajarkan tentang kesopanan. Namun sering dikaitkan dengan pelajaran agama dan pancasila. Setiap sekolah akan berusaha untuk mewujudkan siswanya memiliki kesopanan yang baik. Mulai dari pembiasaan hingga program yang relevan.
Oknum Guru dan Dosen yang Jauh dari Kesopanan
Banyak kita menemukan guru dan dosen yang memiliki kesopanan baik. Mereka dapat menjadi contoh dan teladan bagi siswa dan mahasiswanya. Kesopanan dalam berbicara, kesopanan dalam bertindak, dan kesopanan dalam berpenampilan.
Namun tak sedikit juga kita menjumpai oknum guru, bahkan dosen yang sebaliknya. Mereka berkomunikasi dengan siswa atau mahasiswanya tanpa mementingkan norma kesopanan. Yang miris, baru-baru ini saya mendengar dari seorang mahasiswa, seorang oknum dosen dari kampus agama, yang beliau juga mempunyai jabatan di sana. Dengan lantangnya berbicara kepada mahasiswanya seolah-olah tidak ada langit setelah langit. Sangat miris bukan? Kita berharap dengan semakin tingginya pendidikan seseorang, maka karakter terutama kesopanan mereka juga berbanding lurus. Namun tidak semua.
Apakah Anda pernah mengalami hal serupa? Saya yakin diantara kita pernah menemukannya. Dilema. Di satu sisi kita masih memiliki kepentingan dengan oknum dosen itu, tapi di sisi lain kita ingin memberikan masukkan. Agar dunia pendidikan, khususnya bangku perkuliahan tidak hanya ajang untuk mendapatkan ijazah saja.
Sebait sajak untukmu para guru dan dosen
Kami mencontoh apa yang kau lalukan
Kami meniru apa yang kau peragakan
Kami menciplak apa yang kau pertontonkan
Kami teladani apa yang kau pertunjukkan
Namun jika arang yang kau suguhkan
Namun jika gulita yang kau tampakkan
Namun jika jerebu kesopanan yang kau berikan
Namun jika polusi sikap yang kau keluarkan
Lantas di mana gelarmu itu?
Lantas di mana jabatanmu itu?
Lantas di mana pendidikanmu yang tinggi itu?
Lantas di mana selimut kebesaranmu itu?
Bukankah adab lebih tinggi dari ilmu?
Bukankah karakter lebih berharga dari pengetahuan?
Bukankah attitude lebih mulia dari sekadar hafalan?
Bukankah sikap lebih mahal dari teori yang kau ajarkan?
Bukankah manusia dilihat dari tingkah lakunya?
Belum terlambat!
Pekanbaru, 12 Februari 2025
di ruang renungan