Tuesday, 11 February 2025

ORANG-ORANG YANG KEBANJIRAN: CERPEN RIO ROZALMI

0 comments

 


ORANG-ORANG YANG KEBANJIRAN

Cerpen: Rio Rozalmi


    “Aku tahu hujan adalah Rahmat Tuhan. Tapi hujan yang awet juga bisa menjadi musibah dan malapetaka,” kata istri Bujang sambil menoleh ke kiri melihat genangan air yang sudah menutupi aspal. Bujang hanya diam dengan pandangan tertuju ke depan.

    “Abang tahu, setiap bulan yang berakhiran ber, seperti September, Oktober, November, atau bulan ini, hujan lebih sering dibanding bulan lainnya. Jalan Soebrantas ini selalu digenangi air,” sambung istri Bujang. 

    Bujang tidak menjawab perkataan istrinya. Pandangannya menyorot tajam pada orang-orang yang mengendarai sepeda motor di depannya. Motor matic warna merah menerobos genangan air yang telah menenggelamkan separuh motor itu. Belum sampai melewati genangan air, motor mogok. Lelaki paruh baya yang mengendarai motor itu terpaksa turun dan mendorong motor tersebut dengan bantuan istrinya. 

    Bujang menurunkan kecepatan mobilnya. Kini pandangan Bujang tertuju pada sebuah motor bebek tepat sebelah kanannya. Motor itu ditunggangi oleh sepasang remaja. Mereka terus melaju tanpa menghiraukan genangan air dan hujan yang semakin deras. 

    “Abang memperhatikan apa?” tanya istri Bujang sambil menepuk pundaknya.

    “Lihatlah dua pasang manusia di depan kita, yang satu berani mengambil risiko walaupun mereka sudah tahu akibatnya. Dan yang satu lagi lupa ingatan. Lupa jika di Pekanbaru ini hanya ada dua musim, kalau tidak kemarau, ya hujan. Seharusnya mereka sudah sedia mantel.”

    Sepanjang perjalanan pulang, Bujang menyaksikan beberapa orang anak kecil yang bermain genangan air dengan senyum yang merekah. Anak kecil itu tidak menghiraukan bahaya yang bisa menghampirinya. Seperti disambar petir atau tenggelam atau digigit ular. 

Baca Juga: Cerpen: Peti

    Mobil Bujang berhenti tepat di bawah jalan fly over. Dua orang anak kecil langsung menghampiri. Dengan berbekal ember, mereka menyiramkan air ke kaca depan mobil. Terlihat air itu mengeluarkan busa ketika wiper naik dan turun. Anak itu mengetuk kaca samping kanan mobil dengan menengadahkan tangannya. Bujang memberikan selembar uang dua ribu dan bertanya di mana orang tua anak itu. Bujang terdiam sejenak, ketika anak itu menjawab, kalau orang tua mereka sudah pisah.

    Kaki kanan Bujang kembali menekan gas secara perlahan, bersamaan dengan lampu yang sudah berwarna hijau. 

    “Bang, sepertinya kita terlambat pulang,” ucap istri Bujang ketika sudah masuk ke kompleks rumah mereka.

    Bujang dan istrinya melihat warga kompleks yang sibuk menyelamatkan barang-barang. Karena air sudah masuk ke rumah warga. 

    Bujang dan istrinya langsung naik ke lantai dua rumah mereka. Beruntung semua barang elektronik yang ada di lantai satu sudah diamankan oleh pembantunya. Mereka duduk di teras lantai dua sambil menunggu air surut. Di temani teh hangat dan kentang goreng yang masih panas. 

    Terdengar suara keributan dari bawah. Bujang dan istrinya berdiri dan mencari sumber suara keributan itu. Mata mereka tertuju pada rumah berwarna abu-abu, dua rumah dari rumah mereka. Pak Ilham yang sedang adu mulut dengan istrinya. Mereka kalah cepat dengan air. Mereka pulang kerja mendapati rumah seperti kolam renang. Habis sudah semua barang elektronik direndam air. 

    Pak Ilham menyalahkan istrinya yang pulang tidak segera, tapi mampir dulu ke pusat perbelanjaan untuk beli baju baru. Sementara istrinya menuding Pak Ilham yang lalai. Dia tidak langsung pulang tapi singgah dulu ke coffee shop. 

    “Kasihan televisi dan kulkas mereka, ya Bang.”

    “Lebih kasihan mobil listrik yang baru mereka beli bulan ini.”

    Pandangan mereka tertuju pada dua manusia terkuat di bumi yang sedang perang dunia. Dari kejauhan terlihat Bu Dinda memegang sapu lantai sambil mengayun-ayunkan ke arah Bu Tari. Bu Tari tak gentar sedikit pun, dengan persenjataan sapu pel, ia hadapi kemarahan Bu Dinda.

    “Kita kebanjiran adalah salah kamu, Nyoya Besar!” teriak Bu Dinda.

    “Diam kamu! Kamu yang tidak pernah membersihkan selokan ini, sehingga sampah menumpuk!” balas Bu Tari dengan tangkai sapu pel mengarah ke selokan.

    “Bukankah ini sampahmu? Jadi kamulah penyebab air tidak lancar.”

    Lain pula ceritanya tetangga sebelah kiri rumah Bujang. Terlihat jelas dari teras lantai dua itu, betapa sibuknya Pak Rian menyelamatkan televisi, kulkas, kipas angin, dan dispenser dari air yang masuk ke dalam rumah. Selesai dengan semua itu, Pak Rian menyalakan kompor dan mengambil sebungkus mi instan. Berbarengan dengan genangan air yang sudah sebetis, semangkok mi instan lengkap dengan telur dan kerupuknya pun siap untuk disantap. 

    Pak Rian melangkah dalam genangan air ke ruang tamu. Di sana sudah menunggu istrinya. Ia sajikan mi instan itu seraya mengambil air putih hangat. Pak Rian selalu sigap dalam melayani, karena ia tidak ingin harimau atau singa keluar dari tubuh istrinya.

    “Potret itu sudah menjadi rahasia umum di kompleks rumah kita, jadi tidak tercengang lagi melihatnya,” kata istri Bujang sambil mengambilkan teh yang ada di meja teras lantai dua itu.

    “Semoga kamu tidak berteman dengan istri Pak Rian nanti di Neraka Jahannam.”

    “Tuntun aku berteman dengan istri Pak Redho, Bang.”

    Sembari menyerumput teh panas, Bujang dan istrinya memandangi rumah Pak Redho yang tepat di depan rumahnya.

    Pak Redho sedang menikmati kopi hangat dan goreng pisang bersama istri dan anaknya di saung depan rumahnya. Mereka baru saja selesai bahu-membahu menyelamatkan barang-barang dari genangan air. Semua pekerjaan akan terasa mudah dan cepat jika dikerjakan bersama-sama, berat sama dijinjing, ringan sama dipikul. 

    Sisa cahaya matahari membaur dengan kegelapan malam yang mulai datang. Menyatu dan membuat langit seakan-akan berwarna oranye. Perlahan memberikan tempat bagi kegelapan untuk merajai langit. Bujang dan istrinya tidak beranjak dari teras lantai dua itu. Mereka menunggu rembulan menyempurnakan purnamanya.

Baca Juga : Cerpen: Sri Memilih

    Bujang dan istrinya memang mencoba menjadi orang gila, agar mereka bahagia setelah melihat kenyataan begitu banyak fenomena rumah tangga, baik yang langgeng hingga maut memisahkan, atau yang berujung di meja hijau─padahal mereka sudah berusaha keras jadi orang waras.

    “Kapan-kapan kita kebakaran, yuk! Dikepung si jago merah!” kata Bujang. Istrinya mengangguk-angguk.   



Leave a Reply