Saturday, 1 February 2025

Peti: Cerpen Rio Rozalmi

0 comments

PETI
Cerpen: Rio Rozalmi

    Bekerja sebagai penambang emas sangatlah berisiko. Tapi bagi Ujang tidak ada pilihan. Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah. Setahun lalu ia di PHK oleh perusahaannya tempat ia bekerja. Ia memutuskan untuk ikut bersama Pak Saka. Seorang cukong tambang emas di kampungnya. Ujang terpaksa. Tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan enam orang anaknya yang masih bersekolah, ia lakukan. 
    Ujang tahu. Tahu bahwa ada pekerja yang cedera atau tinggal nama. Cedera karena dihadang hewan buas. Menggaruk hutan itu, terkadang ada sarang babi. Syukur-syukur tidak ada babi di sarang itu. Tapi malangnya ketika ada babi yang punya anak. Ganasnya bisa tiga kali lipat. Serudukan babi membuat luka robek. Bukan hanya itu. Tak jarang pekerja mengalami kecelakaan di lokasi tambang. Pekerja yang tergelincir ke kolam galian tambang yang dalam atau tertimpa reruntuhan tanah yang mereka garuk itu.  Kejadian demi kejadian membuat Ujang makin kuat hati.
    PETI (Penambang Emas Tanpa Izin) itu sebutan pemerintah untuk pekerja seperti Ujang. Pemerintah melalui aparat menengak hukum serius membasmi kegiatan Peti. Tapi bagi Ujang itu hanya pencitraan belakang. Karena Ujang tahu. Tahu jika cukongnya selalu menyetorkan pada aparat setempat. Mulai dari Kepala Desa, Kecamatan, bahkan sampai penegak hukum. Ini sudah menjadi rahasia umum. Kegiatan Peti ini sudah hampir sepuluh tahun berjalan. Masih aman. Ketika akan ada razia dari penegak hukum, Ujang dan pekerja lain sudah duluan dapat bocoran informasi. Ujang dan pekerja lain akan sembunyi ke dalam hutan. Setelah razia selesai, Ujang dan pekerja lainnya pun kembali menggaruk hutan untuk mengumpulkan butiran emas. 
    “Bang, sudah lihat apa yang dibawa sungai malam ini?” tanya istri Ujang
    “Kayu?” Jawab Ujang
    “Itu ulah, Abang!” 
    Ujang tahu dan paham apa yang dimaksud oleh istrinya. Ujang tidak ada pilihan.
  “Kayu itu membawa berkah bagi kita. Karena tidak perlu lagi ke hutan untuk mencarinya. Berkah bukan?”
    “Iya berkah, tapi akan jadi musibah juga!”
    Ujang sangat paham akibat kerjanya itu, musibah pernah melanda kampung Ujang. Banjir yang membawa kayu-kayu besar merusak jembatan dan rumah warga yang berada di pinggir sungai. Luapan air sungai itu juga merusak jalan. Hewan buas yang memasuki pemukiman juga pernah. Babi, siamang, beruang, dan harimau terpaksa singgah di pemukiman warga untuk mencari bahan makanannya. Ketika musibah itu datang, pelaku peti berhenti sejenak. Mereka seakan menyalahkan alam yang tak bersahabat. 

Baca Juga: Sri Memilih: Cerpen Rio Rozalmi


    Selesai istirahat dua pekan. Ujang kembali berangkat. Tas yang berisikan pakaian dan sepatu boots warna hijau sudah siap menemaninya. Matahari memang belum menampakkan cahayanya dan jamaah salat Subuh belum keluar dari Masjid. Ujang harus berangkat. Karena ia akan bekumpul dulu di rumah Pak Saka si cukong itu. Ujang dan pekerja lain akan diberi arahan dan target yang harus mereka capai. Pembagian tugas. Tugas membawa persediaan makanan, membawa bahan bakar mesin, dan membawa perlengkapan lainnya. Semua sudah terkoordinir dengan baik.
    Perahu pompong kayu yang mereka tumpangi mendekat ketepian. Di tengah hutan belantara, puluhan orang sedang mengadu nasib demi menyambung kehidupan. Sunyi hutan pecah. Belasan mesin dompeng sedang asyik mengisap dan menyaring. Ujang menuju tenda peristirahatan. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang, lauk, dan sayur yang diam dalam plastik. Mereka santap. 
    Sepandai-pandai tupai melompat, pasti jatuh juga. Razia tim gabungan betul-betul diluar dugaan Ujang. Cukong yang menjadi harapannya itu kini sudah ditangkap. Informasi tak sampai. Entah apa yang terjadi sehingga cukong itu dapat ditangkap, apakah setorannya yang macet atau memang keseriusan pemerintah untuk melenyapkan peti. 
    Malam berlalu. Istri Ujang mengantarkan anaknya ke sekolah dasar yang tak jauh dari rumahnya. Ia bertemu dengan salah satu pekerja yang sama-sama berangkat dengan suaminya. Pekerja itu berjalan terseok-seok. Wajahnya pucat. Hanya dengan tangan kosong. Istri Ujang bingung. Pekerja itu menceritakan kejadian sore kemarin. 
    “Ujang suami saya di mana, Pak?” Tanya istri Ujang.
    “Saya tidak satu rombongan dengan Ujang, saat petugas datang, ada pekerja yang lari ke dalam hutan dan ada yang ke sungai. Saya menyeberangi sungai, tapi saya tidak melihat ada Ujang,” jawabnya.
    Isak tangis istri Ujang tak tertahan lagi. Kabar keberadaan Ujang hingga pagi ini belum jelas. Pulau sudah lenyap, daratan sudah tenggelam. 

    Matahari mulai turun. Cahayanya tak panas lagi. Puluhan simpanse mulai keluar dari persembunyiannya. Suara mesin dompeng terasa berbeda dari biasa. Ujang curiga. Apakah bahan bakar mesin habis atau mesin itu rusak? Dari kejauhan terlihat puluhan speed boats mendekat. Letusan tembakan peringatan terdengar jelas. Tim gabungan dari Polisi, TNI, Satpol PP, dan DLHK datang. Ujang dan pekerja lain kocar-kacir menyelamatkan diri. Ada yang lari ke dalam hutan belantara dan ada yang berenang ke seberang sungai. Speed boats itu berlabuh. Tim gabungan terus memburu pelaku peti ke dalam hutan itu. Mereka memusnahkan rakit mesin itu dengan cara dibakar dan sebagian dibawa untuk barang bukti. Pondok peristirahatan pekerja juga ikut dibakar. 


 




Leave a Reply