Saturday, 15 March 2025

MASA DEWASA ADALAH SILUET MASA KECIL: Catatan Rio Rozalmi terhadap Buku Tikar Pandan Karya Yuzelma

0 comments

 


MASA DEWASA ADALAH SILUET MASA KECIL

Catatan Rio Rozalmi terhadap 

Buku Tikar Pandan 

Karya Yuzelma


Berbagai teori psikologi perkembangan mengatakan bahwa masa kecil merupakan masa yang penting dalam perkembangan manusia. Pada masa kecil seorang manusia harus diberikan perhatian yang lebih, sebab akan berdampak pada masa dewasanya. Setiap fase perkembangan manusia itu harus tuntas dan diberikan sesuai dengan porsinya. Jika satu fase perkembangan manusia bermasalah, maka pada fase berikutnya akan terjadi perilaku yang berbeda dari umumnya. Perilaku tersebut akan sulit untuk diatasi, karena tidak mungkin seorang manusia kembali ke fase sebelumnya. dan waktu bersifat maju, tak bisa mundur ke masa lampau. 

Membaca teori psikoanalisa dalam buku Tikar Pandan karya Yuzelma

Teori perkembangan psikoanalisa di kemukakan oleh Sigmund Freud pada abad ke 19, yang menyatakan bahwa peran alam bawah sadar mempengaruhi perilaku manusia, serta pentingnya pengalaman masa kecil dalam membentuk kepribadian dan dinamika psikologi seseorang1. Dalam buku Tikar Pandan ini sangat jelas bawah seorang Yuzelma mendapatkan banyak pengalaman pada masa kecilnya. Sebut saja ketika makan malam di tikar pandan, orang tua Yuzelma mengajarkan banyak hal tentang etika dan estetika dalam jamuan makan. Selain itu kita dapat melihat dalam buku ini, bagaimana Yuzelma diajarkan tentang sikap tanggung jawab. Walaupun dia memiliki saudara yang banyak, tapi setiap orang sudah memperoleh tugasnya masing-masing, yang akan berperan pada keluarga tersebut. 

Teori perkembangan psikoanalisa ini mengemukakan tiga struktur kepribadian, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah tentang insting dan dorongan besar dalam diri. Ego merupakan penyeimbang antara keinginan Id dan kenyataan yang ada. Sedangkan superego adalah pengawas dan pengontrol perilaku agar sesuai dengan norma dan moral yang ada. Ketiga struktur kepribadian ini akan dibentuk dalam masa kecil dan terlihat pada masa dewasa ketika seseorang melakukan suatu tindakan. Dalam buku Tikar Pandan ini kita dapat mengambil pelajaran bagaimana peran orang tua dalam membentuk kepribadian anaknya. Seperti saat Yuzelma melanjutkan pendidikan MTs ke Bukittinggi menjadi anak kos, perjuangan dan pengalaman pergi menggunakan kendaraan yang terbatas. Contoh hidup sederhana yang diajarkan oleh seorang ayah yang memakai tas usang, hingga ide kreatif serta berpikir kritis dengan sepatu bot bapak.


Pandangan teori perkembangan kognitif dalam buku Tikar Pandan karya Yuzelma

Seorang psikolog Swiss yang teorinya masih digunakan hingga sekarang yaitu Jean Piaget. Pada abad ke 19 ia mengemukakan teori perkembangan kognitif pada manusia, di mana manusia akan melewati fase sensormotorik (0-2 tahun), fase praoperasional (2-6 tahun), fase operasional konkret (6-12 tahun), fase operasional formal (12 tahun ke atas)2. Pada setiap fase memiliki karakternya sendiri. Seperti pada usia 6-12 tahun atau pada masa sekolah dasar, menurut teori ini manusia berada di fase praoperasional konkret. Pada fase ini kemampuan kognitif anak cenderung pada benda-benda yang konkret. Maka pada masa ini sangat tepat mengajarkan anak dengan benda-benda yang nyata. 

Buku Tikar Pandan memberikan pelajaran pada kita bagaimana seorang Yuzelma lebih banyak berinteraksi dengan alam. Seperti rumput banto yang dijadikan scurb, berpikir bagaimana seekor kunang-kunang dapat mengeluarkan cahaya, mengenal tanaman latuik-latuik yang kaya anti oksidan, membuat takjil dari aka kalimpanang, hair tonic dari batang pisang, dan lainnya. 

Buku Tikar Pandan ini memberikan gambaran masa kecil anak 80-an yang begitu indah dan menantang. Anak 80-an bermain dengan berinteraksi langsung bersama alam seperti permainan sepak tekong, badia balantak, dan lainnya. Di mana pada permainan ini terdapat sikap yang sedang dibangun yaitu, kekompakkan, kerjasama, kejujuran, menjaga sebuah kepercayaan, hingga berpikir kritis. Jika kita menilik pada dunia pendidikan dewasa ini, kurikulum seakan-akan mengarahkan anak-anak untuk kembali ke anak 80-an. Seperti adanya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang salah satunya adalah mengusung permainan tradisional. Begitu juga dengan muatan kedaerahan seperti Budaya Melayu Riau (BMR) di sekolah dasar. Terpadat materi permainan tradisional seperti permainan ya oma ya opa, permainan enggrang, permainan tam-tam buku, permainan petak umpet, permainan tali karet, permainan gerobak sodor, permainan congklak, permainan, galah panjang, dan lainnya. 

Terakhir kita dapat menjadikan motivasi hidup yang disampaikan oleh bapak Yuzelma yaitu orang hebat adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri (halaman 37).


Daftar Pustaka

1. Santrock, J. W. (2014). Educatinonal Psychplogy. New York, NY: McGraw Hill

2. Hurlock, E. B. (2008). Child Development. New York, NY: Pearson


Leave a Reply