ALT_IMG

BUKAN PRESTASI TAPI HARUS BERBAGI

Bukan Prestasi Tapi Harus Berbagi. Orang yang sukses adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Orang yang berhasil mereka tak henti belajar dari manapun. Readmore...

ALT_IMG

ARSIP SIMPUL PEMERSATU BANGSA

Sejarah itu ada karena diarsipkan dengan baik, mengarsipkan segala sesuatu adalah kebiasaan baik yang perlu dimulai dari diri sendiri. Readmore..

Alt img

RUMAH GADANG MAIMBAU PULANG

Keharusan yang tidak tertulis bagi laki-laki Minang adalah merantau. Merantau adalah trasidi yang tak terpisahkan dari kebiasaan orang Minang, tidak sedikit pepatah dan petuah adat tentang merantau. Readmore...

ALT_IMG

BIARKAN LAUT YANG BERBICARA

Ketika kata tak didengar, sapaan tak dihiraukan, dan nasehat tak dilakukan, biarkanlah laut kan bicara dengan ombak perantara. Sudah Cukup Tak lagi! Readmore...

ALT_IMG

LUPA TAPI INGAT

Semua goresan kehidupan dapat kita lupakan dengan begitu saja namun akan ingat pada saatnya. Readmore...

Tuesday, 11 February 2025

Mahalnya Kesopanan di Bangku Perkuliahan

0 comments

 

Mahalnya Kesopanan di Bangku Perkuliahan

Catatan Seorang Mahasiswa

    Anda pasti pernah pergi ke bank atau kantor asuransi atau kantor instansi yang di kelolah oleh swasta. Dan Anda juga pernah menemukan betapa ramah dan sopannya para pegawai. Mereka akan menyambut Anda dengan senyum yang merekah, mengucapkan salam, menanyakan kabar, atau akan menunjukkan seolah-olah Anda orang yang mereka tunggu kedatangannya. Tentu hal ini menjadi sebuah kenyamanan dan kedamaian bagi diri Anda. 


Mengulik Kesopanan dalam Dunia Pendidikan (Perkuliahan)

    Kurikulum yang disajikan pada siswa selalu menitikberatkan pada karkater atau sikap atau afektif. Meski setiap kurikulum memiliki penamaannya masing-masing, tapi benang merahnya tentang bagaimana interaksi dengan manusia.

    Secara spesifik, materi pelajaran memang tidak ada yang mengajarkan tentang kesopanan. Namun sering dikaitkan dengan pelajaran agama dan pancasila. Setiap sekolah akan berusaha untuk mewujudkan siswanya memiliki kesopanan yang baik. Mulai dari pembiasaan hingga program yang relevan.


Oknum Guru dan Dosen yang Jauh dari Kesopanan

    Banyak kita menemukan guru dan dosen yang memiliki kesopanan baik. Mereka dapat menjadi contoh dan teladan bagi siswa dan mahasiswanya. Kesopanan dalam berbicara, kesopanan dalam bertindak, dan kesopanan dalam berpenampilan. 

    Namun tak sedikit juga kita menjumpai oknum guru, bahkan dosen yang sebaliknya. Mereka berkomunikasi dengan siswa atau mahasiswanya tanpa mementingkan norma kesopanan. Yang miris, baru-baru ini saya mendengar dari seorang mahasiswa, seorang oknum dosen dari kampus agama, yang beliau juga mempunyai jabatan di sana. Dengan lantangnya berbicara kepada mahasiswanya seolah-olah tidak ada langit setelah langit. Sangat miris bukan? Kita berharap dengan semakin tingginya pendidikan seseorang, maka karakter terutama kesopanan mereka juga berbanding lurus. Namun tidak semua. 

    Apakah Anda pernah mengalami hal serupa? Saya yakin diantara kita pernah menemukannya. Dilema. Di satu sisi kita masih memiliki kepentingan dengan oknum dosen itu, tapi di sisi lain kita ingin memberikan masukkan. Agar dunia pendidikan, khususnya bangku perkuliahan tidak hanya ajang untuk mendapatkan ijazah saja. 


Sebait sajak untukmu para guru dan dosen


Kami mencontoh apa yang kau lalukan

Kami meniru apa yang kau peragakan

Kami menciplak apa yang kau pertontonkan

Kami teladani apa yang kau pertunjukkan


Namun jika arang yang kau suguhkan

Namun jika gulita yang kau tampakkan

Namun jika jerebu kesopanan yang kau berikan

Namun jika polusi sikap yang kau keluarkan


Lantas di mana gelarmu itu?

Lantas di mana jabatanmu itu?

Lantas di mana pendidikanmu yang tinggi itu?

Lantas di mana selimut kebesaranmu itu?


Bukankah adab lebih tinggi dari ilmu?

Bukankah karakter lebih berharga dari pengetahuan?

Bukankah attitude lebih mulia dari sekadar hafalan?

Bukankah sikap lebih mahal dari teori yang kau ajarkan?

Bukankah manusia dilihat dari tingkah lakunya?


Belum terlambat!



Pekanbaru, 12 Februari 2025

di ruang renungan


Continue reading →

ORANG-ORANG YANG KEBANJIRAN: CERPEN RIO ROZALMI

0 comments

 


ORANG-ORANG YANG KEBANJIRAN

Cerpen: Rio Rozalmi


    “Aku tahu hujan adalah Rahmat Tuhan. Tapi hujan yang awet juga bisa menjadi musibah dan malapetaka,” kata istri Bujang sambil menoleh ke kiri melihat genangan air yang sudah menutupi aspal. Bujang hanya diam dengan pandangan tertuju ke depan.

    “Abang tahu, setiap bulan yang berakhiran ber, seperti September, Oktober, November, atau bulan ini, hujan lebih sering dibanding bulan lainnya. Jalan Soebrantas ini selalu digenangi air,” sambung istri Bujang. 

    Bujang tidak menjawab perkataan istrinya. Pandangannya menyorot tajam pada orang-orang yang mengendarai sepeda motor di depannya. Motor matic warna merah menerobos genangan air yang telah menenggelamkan separuh motor itu. Belum sampai melewati genangan air, motor mogok. Lelaki paruh baya yang mengendarai motor itu terpaksa turun dan mendorong motor tersebut dengan bantuan istrinya. 

    Bujang menurunkan kecepatan mobilnya. Kini pandangan Bujang tertuju pada sebuah motor bebek tepat sebelah kanannya. Motor itu ditunggangi oleh sepasang remaja. Mereka terus melaju tanpa menghiraukan genangan air dan hujan yang semakin deras. 

    “Abang memperhatikan apa?” tanya istri Bujang sambil menepuk pundaknya.

    “Lihatlah dua pasang manusia di depan kita, yang satu berani mengambil risiko walaupun mereka sudah tahu akibatnya. Dan yang satu lagi lupa ingatan. Lupa jika di Pekanbaru ini hanya ada dua musim, kalau tidak kemarau, ya hujan. Seharusnya mereka sudah sedia mantel.”

    Sepanjang perjalanan pulang, Bujang menyaksikan beberapa orang anak kecil yang bermain genangan air dengan senyum yang merekah. Anak kecil itu tidak menghiraukan bahaya yang bisa menghampirinya. Seperti disambar petir atau tenggelam atau digigit ular. 

Baca Juga: Cerpen: Peti

    Mobil Bujang berhenti tepat di bawah jalan fly over. Dua orang anak kecil langsung menghampiri. Dengan berbekal ember, mereka menyiramkan air ke kaca depan mobil. Terlihat air itu mengeluarkan busa ketika wiper naik dan turun. Anak itu mengetuk kaca samping kanan mobil dengan menengadahkan tangannya. Bujang memberikan selembar uang dua ribu dan bertanya di mana orang tua anak itu. Bujang terdiam sejenak, ketika anak itu menjawab, kalau orang tua mereka sudah pisah.

    Kaki kanan Bujang kembali menekan gas secara perlahan, bersamaan dengan lampu yang sudah berwarna hijau. 

    “Bang, sepertinya kita terlambat pulang,” ucap istri Bujang ketika sudah masuk ke kompleks rumah mereka.

    Bujang dan istrinya melihat warga kompleks yang sibuk menyelamatkan barang-barang. Karena air sudah masuk ke rumah warga. 

    Bujang dan istrinya langsung naik ke lantai dua rumah mereka. Beruntung semua barang elektronik yang ada di lantai satu sudah diamankan oleh pembantunya. Mereka duduk di teras lantai dua sambil menunggu air surut. Di temani teh hangat dan kentang goreng yang masih panas. 

    Terdengar suara keributan dari bawah. Bujang dan istrinya berdiri dan mencari sumber suara keributan itu. Mata mereka tertuju pada rumah berwarna abu-abu, dua rumah dari rumah mereka. Pak Ilham yang sedang adu mulut dengan istrinya. Mereka kalah cepat dengan air. Mereka pulang kerja mendapati rumah seperti kolam renang. Habis sudah semua barang elektronik direndam air. 

    Pak Ilham menyalahkan istrinya yang pulang tidak segera, tapi mampir dulu ke pusat perbelanjaan untuk beli baju baru. Sementara istrinya menuding Pak Ilham yang lalai. Dia tidak langsung pulang tapi singgah dulu ke coffee shop. 

    “Kasihan televisi dan kulkas mereka, ya Bang.”

    “Lebih kasihan mobil listrik yang baru mereka beli bulan ini.”

    Pandangan mereka tertuju pada dua manusia terkuat di bumi yang sedang perang dunia. Dari kejauhan terlihat Bu Dinda memegang sapu lantai sambil mengayun-ayunkan ke arah Bu Tari. Bu Tari tak gentar sedikit pun, dengan persenjataan sapu pel, ia hadapi kemarahan Bu Dinda.

    “Kita kebanjiran adalah salah kamu, Nyoya Besar!” teriak Bu Dinda.

    “Diam kamu! Kamu yang tidak pernah membersihkan selokan ini, sehingga sampah menumpuk!” balas Bu Tari dengan tangkai sapu pel mengarah ke selokan.

    “Bukankah ini sampahmu? Jadi kamulah penyebab air tidak lancar.”

    Lain pula ceritanya tetangga sebelah kiri rumah Bujang. Terlihat jelas dari teras lantai dua itu, betapa sibuknya Pak Rian menyelamatkan televisi, kulkas, kipas angin, dan dispenser dari air yang masuk ke dalam rumah. Selesai dengan semua itu, Pak Rian menyalakan kompor dan mengambil sebungkus mi instan. Berbarengan dengan genangan air yang sudah sebetis, semangkok mi instan lengkap dengan telur dan kerupuknya pun siap untuk disantap. 

    Pak Rian melangkah dalam genangan air ke ruang tamu. Di sana sudah menunggu istrinya. Ia sajikan mi instan itu seraya mengambil air putih hangat. Pak Rian selalu sigap dalam melayani, karena ia tidak ingin harimau atau singa keluar dari tubuh istrinya.

    “Potret itu sudah menjadi rahasia umum di kompleks rumah kita, jadi tidak tercengang lagi melihatnya,” kata istri Bujang sambil mengambilkan teh yang ada di meja teras lantai dua itu.

    “Semoga kamu tidak berteman dengan istri Pak Rian nanti di Neraka Jahannam.”

    “Tuntun aku berteman dengan istri Pak Redho, Bang.”

    Sembari menyerumput teh panas, Bujang dan istrinya memandangi rumah Pak Redho yang tepat di depan rumahnya.

    Pak Redho sedang menikmati kopi hangat dan goreng pisang bersama istri dan anaknya di saung depan rumahnya. Mereka baru saja selesai bahu-membahu menyelamatkan barang-barang dari genangan air. Semua pekerjaan akan terasa mudah dan cepat jika dikerjakan bersama-sama, berat sama dijinjing, ringan sama dipikul. 

    Sisa cahaya matahari membaur dengan kegelapan malam yang mulai datang. Menyatu dan membuat langit seakan-akan berwarna oranye. Perlahan memberikan tempat bagi kegelapan untuk merajai langit. Bujang dan istrinya tidak beranjak dari teras lantai dua itu. Mereka menunggu rembulan menyempurnakan purnamanya.

Baca Juga : Cerpen: Sri Memilih

    Bujang dan istrinya memang mencoba menjadi orang gila, agar mereka bahagia setelah melihat kenyataan begitu banyak fenomena rumah tangga, baik yang langgeng hingga maut memisahkan, atau yang berujung di meja hijau─padahal mereka sudah berusaha keras jadi orang waras.

    “Kapan-kapan kita kebakaran, yuk! Dikepung si jago merah!” kata Bujang. Istrinya mengangguk-angguk.   



Continue reading →
Saturday, 1 February 2025

Hidup Bahagia Berbalik Keji: Puisi Aryo Brawijaya Kelas V SD IT Imam Syafii Cendikia

0 comments

 

Hidup Bahagia Berbalik Keji

Karya : Aryo Brawijaya

Kelas: V

 

Hidup bahagia berbalik keji 

Banyak nyawa tak berdosa mati 

Oleh manusia tak punya hati 

Sudah lama aksi tak juga berganti 

 

Banyak nyawa sudah melayang 

Sekarang hanya tinggal sebuah kenangan 

Reruntuhan jadi tempat tinggalnya 

Banyak rudal menghancurkannya 

 

Aku, kami, dan kita sedang membantu 

Dengan doa yang kami panjatkan kepada Allah Tuhan Yang Satu 

Semoga kemerdekaanmu terbantu


Baca Juga: Puisi: Pasir Waktu


Continue reading →

Peti: Cerpen Rio Rozalmi

0 comments

PETI
Cerpen: Rio Rozalmi

    Bekerja sebagai penambang emas sangatlah berisiko. Tapi bagi Ujang tidak ada pilihan. Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah. Setahun lalu ia di PHK oleh perusahaannya tempat ia bekerja. Ia memutuskan untuk ikut bersama Pak Saka. Seorang cukong tambang emas di kampungnya. Ujang terpaksa. Tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan enam orang anaknya yang masih bersekolah, ia lakukan. 
    Ujang tahu. Tahu bahwa ada pekerja yang cedera atau tinggal nama. Cedera karena dihadang hewan buas. Menggaruk hutan itu, terkadang ada sarang babi. Syukur-syukur tidak ada babi di sarang itu. Tapi malangnya ketika ada babi yang punya anak. Ganasnya bisa tiga kali lipat. Serudukan babi membuat luka robek. Bukan hanya itu. Tak jarang pekerja mengalami kecelakaan di lokasi tambang. Pekerja yang tergelincir ke kolam galian tambang yang dalam atau tertimpa reruntuhan tanah yang mereka garuk itu.  Kejadian demi kejadian membuat Ujang makin kuat hati.
    PETI (Penambang Emas Tanpa Izin) itu sebutan pemerintah untuk pekerja seperti Ujang. Pemerintah melalui aparat menengak hukum serius membasmi kegiatan Peti. Tapi bagi Ujang itu hanya pencitraan belakang. Karena Ujang tahu. Tahu jika cukongnya selalu menyetorkan pada aparat setempat. Mulai dari Kepala Desa, Kecamatan, bahkan sampai penegak hukum. Ini sudah menjadi rahasia umum. Kegiatan Peti ini sudah hampir sepuluh tahun berjalan. Masih aman. Ketika akan ada razia dari penegak hukum, Ujang dan pekerja lain sudah duluan dapat bocoran informasi. Ujang dan pekerja lain akan sembunyi ke dalam hutan. Setelah razia selesai, Ujang dan pekerja lainnya pun kembali menggaruk hutan untuk mengumpulkan butiran emas. 
    “Bang, sudah lihat apa yang dibawa sungai malam ini?” tanya istri Ujang
    “Kayu?” Jawab Ujang
    “Itu ulah, Abang!” 
    Ujang tahu dan paham apa yang dimaksud oleh istrinya. Ujang tidak ada pilihan.
  “Kayu itu membawa berkah bagi kita. Karena tidak perlu lagi ke hutan untuk mencarinya. Berkah bukan?”
    “Iya berkah, tapi akan jadi musibah juga!”
    Ujang sangat paham akibat kerjanya itu, musibah pernah melanda kampung Ujang. Banjir yang membawa kayu-kayu besar merusak jembatan dan rumah warga yang berada di pinggir sungai. Luapan air sungai itu juga merusak jalan. Hewan buas yang memasuki pemukiman juga pernah. Babi, siamang, beruang, dan harimau terpaksa singgah di pemukiman warga untuk mencari bahan makanannya. Ketika musibah itu datang, pelaku peti berhenti sejenak. Mereka seakan menyalahkan alam yang tak bersahabat. 

Baca Juga: Sri Memilih: Cerpen Rio Rozalmi


    Selesai istirahat dua pekan. Ujang kembali berangkat. Tas yang berisikan pakaian dan sepatu boots warna hijau sudah siap menemaninya. Matahari memang belum menampakkan cahayanya dan jamaah salat Subuh belum keluar dari Masjid. Ujang harus berangkat. Karena ia akan bekumpul dulu di rumah Pak Saka si cukong itu. Ujang dan pekerja lain akan diberi arahan dan target yang harus mereka capai. Pembagian tugas. Tugas membawa persediaan makanan, membawa bahan bakar mesin, dan membawa perlengkapan lainnya. Semua sudah terkoordinir dengan baik.
    Perahu pompong kayu yang mereka tumpangi mendekat ketepian. Di tengah hutan belantara, puluhan orang sedang mengadu nasib demi menyambung kehidupan. Sunyi hutan pecah. Belasan mesin dompeng sedang asyik mengisap dan menyaring. Ujang menuju tenda peristirahatan. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang, lauk, dan sayur yang diam dalam plastik. Mereka santap. 
    Sepandai-pandai tupai melompat, pasti jatuh juga. Razia tim gabungan betul-betul diluar dugaan Ujang. Cukong yang menjadi harapannya itu kini sudah ditangkap. Informasi tak sampai. Entah apa yang terjadi sehingga cukong itu dapat ditangkap, apakah setorannya yang macet atau memang keseriusan pemerintah untuk melenyapkan peti. 
    Malam berlalu. Istri Ujang mengantarkan anaknya ke sekolah dasar yang tak jauh dari rumahnya. Ia bertemu dengan salah satu pekerja yang sama-sama berangkat dengan suaminya. Pekerja itu berjalan terseok-seok. Wajahnya pucat. Hanya dengan tangan kosong. Istri Ujang bingung. Pekerja itu menceritakan kejadian sore kemarin. 
    “Ujang suami saya di mana, Pak?” Tanya istri Ujang.
    “Saya tidak satu rombongan dengan Ujang, saat petugas datang, ada pekerja yang lari ke dalam hutan dan ada yang ke sungai. Saya menyeberangi sungai, tapi saya tidak melihat ada Ujang,” jawabnya.
    Isak tangis istri Ujang tak tertahan lagi. Kabar keberadaan Ujang hingga pagi ini belum jelas. Pulau sudah lenyap, daratan sudah tenggelam. 

    Matahari mulai turun. Cahayanya tak panas lagi. Puluhan simpanse mulai keluar dari persembunyiannya. Suara mesin dompeng terasa berbeda dari biasa. Ujang curiga. Apakah bahan bakar mesin habis atau mesin itu rusak? Dari kejauhan terlihat puluhan speed boats mendekat. Letusan tembakan peringatan terdengar jelas. Tim gabungan dari Polisi, TNI, Satpol PP, dan DLHK datang. Ujang dan pekerja lain kocar-kacir menyelamatkan diri. Ada yang lari ke dalam hutan belantara dan ada yang berenang ke seberang sungai. Speed boats itu berlabuh. Tim gabungan terus memburu pelaku peti ke dalam hutan itu. Mereka memusnahkan rakit mesin itu dengan cara dibakar dan sebagian dibawa untuk barang bukti. Pondok peristirahatan pekerja juga ikut dibakar. 


 




Continue reading →
Sunday, 26 January 2025

Sri Memilih: Cerpen Rio Rozalmi

0 comments

 


SRI MEMILIH

Sri meletakkan mata pisau penyadap karet, pada ujung bekas sadapannya kemarin. Karet yang sudah kering itu ia tarik. Pisaunya berjalan maju melukai kulit pohon. Terlihat aliran getah karet menuju pada tempurung. Dari satu pohon ke pohon lainnya ia lakukan dengan hal yang sama.
Janda beranak dua itu kini berjuang menyekolahkan anak-anaknya sendiri. Sri memilih membesarkan anaknya dari kebun karet peninggalan suaminya. Ia selalu teringat ucapan almarhum suaminya, baik berjagung-jagung sementara padi belum masak. Ia dan anaknya sudah terbiasa hidup sederhana. Hidup di Kampung Cikondang yang berdampingan dengan kebun karet, tidak menyulitkan Sri. Ketika tidak ada untuk dimasak, ia menyusuri tepian sungai kecil di kebun karet untuk mencari pakis atau mencari rebung, terkadang ia dibantu anaknya untuk mencari ikan-ikan kecil seperti sepat atau wader.
Hamparan kabut tebal terlihat jelas oleh Sri. Hawa dingin menusuk raga. Tetesan embun jatuh membasahi tanah. Nyamuk-nyamuk mengikuti langkah Sri yang berpindah dari satu pohon karet ke pohon lainnya. Rutinitas ini sudah ia lakukan lebih dari dua puluh tahun. Namun dua tahun terakhir, rutinitas ini terasa berat oleh Sri, tersebab ia melakukan sendiri tanpa suami. Ia berharap hari ini tidak hujan. Jika hujan maka getah karetnya di dalam tempurung tidak membeku.
“Sri, apakah sudah kau pikirkan lagi tawaran Bang Niko?” 
“Sudah Om, jawabanku masih sama.”
“Cobalah kau pikirkan lagi, sampai kapan kau menyadap karet?”
Banyak pria yang datang pada Bambang menanyakan keponakannya yang janda itu. Mulai dari yang seumuran dengan Sri hingga sama tua dengan ayahnya. Bambang terus mencoba membujuk Sri saat mereka istirahat di pondok kecil sesudah menyadap karet. 
Matahari mulai naik. Sri membawa ember yang ada di pondok kebunnya itu. Ia mulai mengambil getah karet yang berkumpul di tempurung tiap pohon. Ember penuh. Sri menyusun getah karet itu pada sebuah cetakan. Cetakan yang dibuat dengan menggali tanah. Sebelum getah karet itu disusunnya, ia sudah meletakkan tali di dalam cetakkan itu, agar nanti mudah untuk mengeluarkan karet dari cetakkan. Ia kembali mengutip getah karet pada tempurung yang lain. Tiga ember getah karet ia dapatkan pada panen kali ini.
Bongkahan getah karet itu ia bawa ke tauke yang sudah siap membelinya.
“Berapa kilo karet saya, Mas?” tanya Sri sambil memperhatikan timbangan.
“Dua puluh enam kilo, Sri” jawab tauke dengan pandangan gombal. 
“Berapa sekilo sekarang, Mas?” 
“Kalau karet orang lain saya beli lima ribu lima ratus, tapi khusus untuk Sri saya kasih harga spesial yaitu enam ribu.” Sri terdiam. Ia menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca sambil melihat bongkahan karet yang terapung di kolam. 
Bau getah karet menusuk hidung yang dirasakan Sri, sama dengan harganya. Ia kembali ke rumah dengan membawa uang seratus lima puluh enam ribu rupiah. 
“Mak, bagaimana dengan uang masuk kuliahku?” tanya putri sulungnya.
“Uangnya sudah ada separuh, doakan saja hari tidak hujan, jadi emak bisa nyadap tiap hari,” jawab Sri sambil membersihkan lumpur yang menempel di kakinya.
“Jangan lupa baju seragama SMA aku ya, Mak.” Anak bungsu Sri juga mengajukan permintaan.
“Iya, Dek, kamu bantu doa saja, emak sudah perkirakan itu semua.” 
Sri ingin kedua anaknya menjadi sarjana. Cukup ia saja yang tamat SMP. Nasib anaknya harus lebih baik dari dia. Bagi Sri pendidikan adalah kekuatan dan senjata yang ampuh untuk mengubah keadaan hidup anaknya.
Dua pekan berlalu. Mujur sepanjang hari, malang sekejap mata. Musim kemarau berakhir sudah dan musim hujan datang menghampiri. Sri tidak bisa menyadap karet setiap hari lagi. Di pondok tengah kebut karet itu, pandanganya tertuju pada pohon-pohon karet yang tersusun. Ia tidak melakukan apa-apa. Pohon karet basah karena semalam hujan. Jika ia paksakan untuk menyadap pagi ini, maka akan sia-sia saja. Getah karet tidak akan menuju sudu tapi melebar ke mana-mana. Ia memutuskan untuk mencari pakis.
Sungai kecil yang ada di kebun karet itu, ia susuri. Ia berhati-hati untuk menginjakkan kakinya di bebatuan karena licin. Air sungai yang segar menyejukan hati Sri yang sedang bimbang. Pucuk pakis yang ia patahkan, ia letakkan dalam kantong kresek. Pacet yang hinggap di kakinya tidak menghalangkan langkah Sri untuk terus mengumpulkan batangan pucuk pakis itu.
Pucuk pakis yang terkumpul itu setidaknya bisa menjadi sayur sebagai teman nasi untuk dimakan. Pakis dalam kresek itu terasa berat bagi Sri dalam melangkah pulang. Bukan karena pakis itu banyak tapi karena pikiran Sri yang sedang mencoba memutar otak untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya. Sebelum sampai di rumahnya, Sri memutuskan untuk singgah di rumah panamnya.
“Om, adakah uang yang bisa saya pinjam?”
“Kalau untuk sekadar makan, saya bisa pinjamkan, tapi untuk biaya sekolah anakmu itu tidak ada, kamu tahukan sekarang musim hujan. Cobalah kamu pikirkan lagi tawaran Mas Niko atau kau terima tauke karet itu. Biar hidupmu tak susah seperti ini.”
“Saya menolaknya bukan karena umur Mas Niko yang sudah berkepala tujuh atau saya menerima tauke itu tersebab harta, tapi saya tidak mau mengkhianati almarhum Mas Adi, walau ia sudah tidak ada tapi cinta dan kasihnya tidak pernah hilang dalam hati saya.”
Pilihan yang sulit membuat Sri belum memejamkan matanya hingga tengah malam. Ia memandang dua anaknya yang sedang tidur. 
“Andai Mas Adi masih ada, aku masih punya teman untuk berbagi kesulitan ini. Mas, lihatlah anak kita, ia sedang butuh banyak biaya untuk pendidikannya. Bukankah ini cita-cita kita dulu untuk berjuang bersama dalam menyekolahkan mereka, Mas? Aku butuh bahumu Mas untuk bersandar menceritakan ini semua.” Air mata jatuh di pipinya, sembari raganya ia sandarkan di dinding, cahaya temaran lampu lima wat dan heningnya malam, membuat kerinduan Sri makin mendalam.
Waktu masuk sekolah dan kuliah semakin dekat. Sri hilang cara. Ia dihadapkan dengan pilihan yang berat. Jika ia menjual kebun karetnya itu, lantas ia akan mencari uang dari mana lagi untuk menyambung hidupnya. Sebab hanya itu satu-satunya yang ia miliki. Jika ia menerima tawaran Mas Niko, hidupnya akan berubah karena Mas Niko duda kaya dikampungnya. Namun ia tidak mau menikahi lelaki seumuran dengan ayahnya. Kalau ia menjadi istri kedua tauke karet, tentu ia tidak perlu lagi menyadap karet setiap pagi dan kebutuhan anaknya akan terpenuhi. Tapi Sri tidak mau. Ini bukan hanya sekadar uang melainkan cinta yang berprinsip. Bagi dia, ketika kehilangan seseorang yang dicintai, kita harus belajar untuk tidak hidup tanpa mereka, tetapi untuk hidup dengan cinta yang mereka tinggalkan. 
Sri mendatangi rumah Mas Niko. Ia membawa surat dalam map. Berharap rencananya berbuah manis.
“Mas, saya sedang butuh uang untuk anak-anak sekolah dan kuliah. Saya hanya punya kebun karet. Ini sertifikat kebunnya. Saya mau gadaikan kebun ini.”
“Bawa saja sertifikatmu itu pulang Sri. Kamu butuh berapa? Saya akan beri.”
“Maaf Mas, saya tidak bermaksud meminta, tapi meminjam uang dengan jaminan kebun saya.”
Sri tidak mau jika hanya diberi uang dengan cuma-cuma. Apalagi ia tahu bahwa Mas Niko tertarik padanya. Sri menolak pemberian itu demi harga dirinya. Ia kembali ke rumah dengan kecewa dan kesal.
“Mak, apakah sudah ada uang untuk daftar aku kuliah? Pekan depan waktu terakhir pembayarannya,” tanya putri sulungnya.
“Mak sedang berusaha.”
“Jika tidak ada uang, tidak apa-apa Mak, saya cari kerja saja. Uang yang ada untuk beli seragam dan keperluan adik saja,” putri sulung Sri memberikan pengertiannya. 
“Mak terus berusaha sayang, kamu harus kuliah, itu impian Mak dan almarhum ayahmu.”
Walau Sri tahu untuk mendapatkan uang dengan jumlah besar dalam waktu sebentar tidak mudah. Tapi dia tidak mau anaknya patah semangat untuk berkuliah. Ia terus berusaha mencari pinjaman.
“Mas, saya tahu hutang saya sudah banyak di sini, tapi apakah boleh saya menambah lagi Mas? Ini untuk keperluan anak saya sekolah” Sri menemui tauke karet.
“Sri, berkali-kali Mas sampaikan dengan Dek Sri, jangan sungkan-sungkan untuk meminjam uang dengan Mas, jangankan meminjam Sri, Mas akan beri berapa saja kebutuhan Sri. Inikan untuk anak-anak kita juga nanti. Anak Sri nanti akan menjadi anak Mas juga.”
“Maksudnya Mas?”
“Paman Sri, Mas Bambang pasti sudah memberi tahu Sri. Mas butuh Sri mendampingi Mas di sini. Mbak Mira tidak bisa memberikan Mas keturunan.”
Bukan uang yang diberikan tapi curhatan tauke yang Sri dapatkan. Sri kembali ke rumah pamannya untuk menyampaikan keluh kesah dan usaha yang sudah ia lakukan. Hanya paman kerabat Sri yang masih ada. Sri menceritakan ketika ia ke rumah Mas Niko dan tauke.
“Sri, ini saatnya kau untuk menentukan pilihan. Anak-anakmu sekolah atau tidak.”
“Saya tentu memilih anak-anak bisa sekolah dan masa depan yang lebih baik daripada saya.”
“Kau pilih Mas Niko atau tauke?”
“Tidak keduanya.”
“Kau mau apalagi? Mas Niko itu duda dan penyayang, istri tauke itu tidak dapat memberikan keturunan. Keduanya tidak ada yang akan menjadi penghalang, jika kau mau jadi istrinya. Kau tinggal pilih.”
Bukan air untuk pelepas dahaga di tengah gurun yang ia dapatkan, tapi badai kebingunan yang semakin kencang. Jawaban pamannya mulai menggoyahkan pendirian Sri. Apakah memang ini jalan satu-satunya? Menjadi istri lelaki tua untuk anak-anak bisa bersekolah atau menjadi istri kedua agar hidup bisa berubah. Di tengah kebimbangan itu, Sri melangkah ke sebuah bank. Ia berharap dapat meminjam uang dengan sertifikat kebunnya sebagai anggunan. 
Sri tidak menyangkan hidupnya akan seperti ini. Pihak bank menolak permohonan pinjaman Sri dengan alasan kebun karetnya itu tidak menjanjikan. Karena akses ke kebun itu masih belum memadai dan pihak bank tidak tertarik. Langkah Sri menuju rumah makin berat. 
Hujan turun di pipi Sri. Keheningan menambah kesedihan. Di atas sajadah ia curahkan semuanya. Malam itu penuh dengan tumpahan elegi yang tak tertahan. Seusai menegadahkan tangan pada Yang Maha Kuasa, ia mengambil pigura saat momen pernihakan dulu dengan Mas Adi. Hidup bersama Mas Adi adalah bab terindah dalam hidup Sri. Kini Sri telah beranjak ke bab berjuang tanpa Mas Adi. Sri terlelap di atas sajadahnya dengan memeluk pigura itu.
Suara mesin pemotong pohon terdengar di kebun karet milik Sri. Satu persatu pohon karet itu tumbang. Belasan orang mengangkat potongan pohon karet itu ke dalam truk. Harga karet yang terus turun dan ditambah dengan musim hujan sehingga ia memutuskan untuk menebang semua pohon karet itu. Ia menjualnya ke pengepul kayu bakar. 
Di pinggir kebun itu Sri berdiri. Ia merintih. Tangannya menggenggam lembaran rupiah. Dalam hamparan yang kini hanya berupa tunggul pohon karet, Sri melihat masa depan anaknya, beras dari hari ke hari, uang masuk kuliah dan seragam yang bisa terbeli dan sedikit sisa uang untuk modal berkebun palawija. Sri tumbang bersama pohon karetnya dalam menyekolahkan dua anaknya. Ia juga ikut terpotong dalam lima atau tujuh bulan kedepan. Tapi ia masih punya semangat dalam balutan cinta almarhum suaminya yang membekas dan mengakar seperti tunggul pohon karet itu.




Keterangan : Cerpen pemenang juara 2 pada lomba Tingkat nasional yang ditaja oleh Universitas Al Azhar Indonesia Tahun 2023

Continue reading →
Tuesday, 31 December 2024

Puisi : Drama 365 Hari (Terima Kasih 2024 dan Selamat Datang 2025)

0 comments



Drama 365 Hari


365 hari

Senyum mengandung luka 

Amarah dalam tawa

Sunyi di tengah bersama

Kecewa berlapis bahagia

 

365 hari

Patahkan amuk kepura-puraan

Tangguh hadapkan kemunafikan 

Tameng kata manis penghalau harapan

Payung pujian bagian penghinaan

Kesenangan siluet kebencian

 

365 hari

Sudahi mural keluhan

Lepas atas kerinduan

Tutup tahun usai tangisan

Tangisan tanpa ratapan

Drama 365 hari penutupan


Pulau Pagang, 31 Desember 2024


Baca Juga: Puisi Pergantian Tahun

 


Continue reading →

Puisi Pergantian Tahun (Pasir Waktu)

0 comments



Pasir Waktu


pernahkan kau menggenggam pasir kehidupan? yang halus, yang berderai, yang lemah menghadapi kenyataan.


ini bukan pasir sungai yang kasar, pasir laut yang gelap,

tapi pasir pulau yang putih, bersih, menyilau.

tentang labirin kehidupan 12 purnama menyisakan kelam malam,

puing-puing cahaya di siang dan bekas sore yang marun.


setulus pasir menerima pantai di garis keluhan tak bernilai,

mengabarkan nyiur-nyiur terurai tentang elegi empat triwulan baru usai.

seikhlas ombak merapikan pasir pantai,

jejak pahit manis kehidupan tiga caturwulan,

percayakan pada tiupan angin dan birunya lautan.


relakan hitam putih pasir waktu 365 hari hitungan

cintai angin kesedihan, belajar menerima asinnya penolakkan, dan gapai riuh kebahagiaan.

demi gemilang pasir waktu 365 hari kedepan.


Pulau Pagang, Sumbar, 31 Desember 2024


Baca Juga : Puisi Drama 365 hari



Continue reading →