ALT_IMG

BUKAN PRESTASI TAPI HARUS BERBAGI

Bukan Prestasi Tapi Harus Berbagi. Orang yang sukses adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Orang yang berhasil mereka tak henti belajar dari manapun. Readmore...

ALT_IMG

ARSIP SIMPUL PEMERSATU BANGSA

Sejarah itu ada karena diarsipkan dengan baik, mengarsipkan segala sesuatu adalah kebiasaan baik yang perlu dimulai dari diri sendiri. Readmore..

Alt img

RUMAH GADANG MAIMBAU PULANG

Keharusan yang tidak tertulis bagi laki-laki Minang adalah merantau. Merantau adalah trasidi yang tak terpisahkan dari kebiasaan orang Minang, tidak sedikit pepatah dan petuah adat tentang merantau. Readmore...

ALT_IMG

BIARKAN LAUT YANG BERBICARA

Ketika kata tak didengar, sapaan tak dihiraukan, dan nasehat tak dilakukan, biarkanlah laut kan bicara dengan ombak perantara. Sudah Cukup Tak lagi! Readmore...

ALT_IMG

LUPA TAPI INGAT

Semua goresan kehidupan dapat kita lupakan dengan begitu saja namun akan ingat pada saatnya. Readmore...

Monday, 17 February 2025

9 Tujuan Utama Pembelajaran STEAM

0 comments

 


    Dewasa ini banyak sekolah yang berlomba untuk belajar tentang STEAM (Sciences, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics) Alasannya adalah tantangan dunia global saat ini. Siswa kita nantinya akan hidup pada zama teknologi, bahkan kita dengar ada sebuah negara yang duluan hidup 50 tahun dari kita, karena di sana semua sudah menggunakan robot dan teknologi canggih. 

    Pemerintah juga mengarahkan untuk semua satuan pendidikan meningkatkan pembelajaran STEAM di kelas-kelas. Maka banyak satuan pendidikan yang mengadakan ekstrakurikuler robotik, coding, dan lainnya. Tentu hal ini tidaklah salah. Namun yang perlu kita dalami adalah apa sebenarnya yang akan kita tuju dari Pembelajaran STEAM tersebut. Ada beberapa hal yang menjadi tujuan:

1. Kepedulian

    Kepedulian adalah tujuan utama dari Pembelajaran STEAM. Buat apa seseorang yang memiliki pemikiran luar biasa tapi tidak berdampak. Contohnya ketika seseorang menjumpai tumpukkan sampah yang banyak, sebagai orang yang mempunyai pemikiran luar biasa, ia harus peduli dengan permasalahan ini. Ia akan membuat alat untuk mengatasi sampah yang menumpuk tersebut, tentu dengan pedekatan STEAM. Itu mengapa kepedulian harus ditopang dengan kemampuan.

2. Kepekaan

    Kita ingat beberapa tahun silam. Ketika kita ingin menyetorkan atau menarik uang dari bank, maka kita harus antre yang memakan waktu dan tidak efisien. Dengan konsep STEAM orang-orang menciptakan mesin ATM. Sehingga mempermudah banyak orang. Kepekaan inilah yang menjadi pokok STEAM itu sendiri. Untuk apa orang yang memiliki kemampuan tapi tidak ada kepekaan, sama saja pohon yang tinggi tapi tidak berbuah. Kurang bermanfaat.

3. Kebersamaan

        STEAM adalah model kekinian dari kebersamaan masa lampau. Puluhan tahun silam, nenek moyang kita menjalin kebersamaan secara manual. Mereka membangun rumah dengan kebersamaan, membangun jembatan dengan gotong royong, menciptakan kincir air secara bahu-membahu. Namun kita mencair kebersamaannya dalam STEAM.

4. Kolaborasi

    Pengerjaan suatu proyek yang berkaitan dengan STEAM tidak dapat dikerjakan sendiri. Perlu kolaborasi banyak pihak. Kemampuan kolaborasi adalah kunci dari keberhasilan proyek STEAM ini. Tidak ada ilmuan yang dapat bekerja sendiri, dia akan membutuhkan orang lain untuk asistennya atau butuh ilmuan lain untuk bertukar pikiran.

5. Cinta Lingkungan

    Banyak permasalahan lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini. Baik itu karena faktor alam maupun ulah manusia itu sendiri. Terlepas dari faktor penyebabnya itu, STEAM mengambil peran untuk menciptakan manusia yang cinta akan lingkungannya. Dengan beragam alat-alat yang berhasil diciptakan dan berdampak baik pada lingkungan, seperti traktor yang ramah lingkungan, alat pendeteksi gempa-tsunami, alat pendeteksi polusi udara, dan lainnya.



6. Tanggung Jawab

    Tuhan telah memberikan kita wadah untuk hidup yang kita sebut bumi. Tentu tugas kita adalah untuk menjaga dan memelihara bumi kita ini. Kita tidak boleh terperangkap pada siapa yang salah, siapa yang merusak, dan siapa yang menjadi dalangnya. Namun kita sebagai manusia harus ambil peran. Ingatlah pepatah mengatakan, siapa yang menanam dia yang menuai. Mari kita tanam tanggung jawab agar generasi anak keturunan kita tidak dapat beban. Dengan STEAM kita dapat menciptakan pembengunan yang berkelanjutan.

7. Berpikir Kritis

    STEAM dengan berpikir kritis tidak perlu kita ragukan lagi. Karena memang tiang dari STEAM adalah critical thinking. Sebab semua projeknya membutuhkan pemikiran-pemikiran yang kreatif dan terbarukan. Tentu Anda pernah masuk sebuah gedung yang pintunya terbuka dan tertutup secara otomatis. Semua adalah kerja dari sensor yang ditanam pada alat-alat di pintu tersebut. Contoh kecil ini adalah hasil dari pikiran yang kreatif dan kritis dengan menunggunakan konsep dari STEAM. Tentu banyak contoh lainnya dalam kehidupan kita. 

8. Pemecahan Masalah

    Manusia pada tahun 60-an menulis dengan tinta, kemudian beranjak menggunakan mesin ketik, dan pada tahun milenial sudah menggunakan komputer. Namun masalah tetap ada, komputer yang ukurannya besar tidak dapat dibawa ke mana-mana. Manusia menciptakan laptop, mulai dari yang tebal hingga tipis, ukuran besar hingga note book. Dan tidak sampai di situ saja, bahkan sekarang kita tidak perlu menggunakan jari-jari untuk benar-benar mengetik. Cukup dengan mengucapkan sesuatu, maka apa yang Anda ucapkan, persis itu yang diketik oleh perangkat lunak atau aplikasi di laptop. Manusia akan terus berinovasi sesuai dengan masalah yang dia hadapi. Hal ini tidak terlepas dari peran konsep STEAM ini. 

9. Kemudahan

    Siapa yang tidak tahu dengan Terusan Panama atau Terusan Suez. Dengan STEAM manusia memangkas perjalanan yang jauh, waktu yang lama, biaya yang mahal. Sehingga sebuah kapal dapat dengan efisien untuk berlayar. Dua terusan ini adalah hasil dari konsep STEAM yang sangat mempermudah kehidupan banyak manusia di dunia ini.



    Pembelajaran apapun seyogyanya bermuara pada karakter dari manusia itu sendiri. Bukan hanya yang kita tuju hasil secara kebendaan, tapi hasil secara perangkat lunak manusialah. 

Continue reading →
Saturday, 15 February 2025

Rumah tanpa Cahaya: Puisi Athifa Dayana B Kelas VI SD IT Imam Syafii Cendikia

0 comments

 


Rumah tanpa Cahaya

Karya : Athifa Dayana B

Kelas VI


Ibu

Kaulah tempatku berteduh 

Orang pertama ada saat aku butuh

Selalu mendengarkan semua ceritaku


Malam dengan hujan dan petir 

Aku merasa takut 

Pandanganku terlihat hitam pekat 

Bagaikan rumah tanpa cahaya

Aku tak bisa merasa tenang


BACA JUGA: Puisi Drama 365 hari

Namun, aku merasakan dekapan hangat 

Bagaikan selimut tebal

Saat kulihat ke belakang perlahan 

Benar firasatku, itulah engkau ibu 

Memberiku dekapan hangat dan nyaman 


Tuhan 

Tolong jaga Ibuku

Bahagiakan Ibuku

Lindungi dia dari marabahaya

Terima kasih Tuhan

Terima kasih telah mendatangkan dia ke kehidupanku 

BACA JUGA : Puisi Pasir Waktu


Continue reading →

Benang Merah Guru Jalan di Tempat

0 comments

 

    Sudah menjadi kewajiban bagi setiap guru untuk melakukan dua hal. Yaitu mengajar dan Membuat adaministrasi. Tidak ada yang salah dari kedua hal ini. Tentu menjagar adalah identik dengan guru itu sendiri. Bahkan orang yang memberi ilmu secara tidak formalpun juga sering kita sebut sebagai guru. Begitu melekatnya guru dengan mengajar. Hal yang sama juga pada Administrasi. Guru harus mampu membuat semua adminitrasi yang menunjang kegiatan menjagar tersebut. Seperti skenario pembelajaran atau yang sering kita sebut Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau dalam Kurikulum Merdeka kita sebut Modul Ajar. Hasil dari mengajar itu sendiri juga harus diadminitrasikan oleh guru, sebagai bahan evaluasi dan refleksi untuk pembelajaran berikutnya. Dan banyak lainnya.


   Rutinitas tersebut kadang melalaikan sebagian guru untuk terus meningkatkan kompetensinya. Sehingga siklus guru menjagar tidak ada bedanya dari tahun ke tahun. Tentu hal ini akan menjadi tidak baik untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia nantinya. 

    Begitu juga dengan hal, bahwa sebagian guru yang dulunya pernah belajar dibangku perkuliahan merasa bahwa tidak relevan. Apa yang sudah mereka pelajari tidak terpakai pada saat mereka belajar. Tentu hal ini adalah miskonsepsi yang perlu diluruskan. Secara hakikatnta, apa yang didapat dulu pada saat berkuliah sangat berguna ketika seorang guru menjadi guru sesungguhnya. Permasalahannya adalah pada konektivitas pengetahuan guru itu sendiri. Sebagian besar guru terjebak dengan aktivitas yang telah diwarisi oleh guru sebelumnya. Padahal zaman makin menggeliat. 

    Sekolah perlu mengambil tindakan agar semua alasan itu tidak menjadi penghalang kemajuan suatu satuan pendidikan. Banyak cara yang dapat dilakukan. Diantaranya adalah dengan mengadakan pelatihan yang memang dibutuhkan. Memilih dan memilah narasumber yang munpuni, serta konsisten melakukannya. Yang lebih penting adalah aplikatif sesudah pelatihan itu sendiri. 

    Semangat untuk para guru Indonesia dalam meningkatkan kompetensinya, baik secara mandiri maupun kolaborasi.


Pekanbaru, 15 Februari 2025

Continue reading →
Tuesday, 11 February 2025

Mahalnya Kesopanan di Bangku Perkuliahan

0 comments

 

Mahalnya Kesopanan di Bangku Perkuliahan

Catatan Seorang Mahasiswa

    Anda pasti pernah pergi ke bank atau kantor asuransi atau kantor instansi yang di kelolah oleh swasta. Dan Anda juga pernah menemukan betapa ramah dan sopannya para pegawai. Mereka akan menyambut Anda dengan senyum yang merekah, mengucapkan salam, menanyakan kabar, atau akan menunjukkan seolah-olah Anda orang yang mereka tunggu kedatangannya. Tentu hal ini menjadi sebuah kenyamanan dan kedamaian bagi diri Anda. 


Mengulik Kesopanan dalam Dunia Pendidikan (Perkuliahan)

    Kurikulum yang disajikan pada siswa selalu menitikberatkan pada karkater atau sikap atau afektif. Meski setiap kurikulum memiliki penamaannya masing-masing, tapi benang merahnya tentang bagaimana interaksi dengan manusia.

    Secara spesifik, materi pelajaran memang tidak ada yang mengajarkan tentang kesopanan. Namun sering dikaitkan dengan pelajaran agama dan pancasila. Setiap sekolah akan berusaha untuk mewujudkan siswanya memiliki kesopanan yang baik. Mulai dari pembiasaan hingga program yang relevan.


Oknum Guru dan Dosen yang Jauh dari Kesopanan

    Banyak kita menemukan guru dan dosen yang memiliki kesopanan baik. Mereka dapat menjadi contoh dan teladan bagi siswa dan mahasiswanya. Kesopanan dalam berbicara, kesopanan dalam bertindak, dan kesopanan dalam berpenampilan. 

    Namun tak sedikit juga kita menjumpai oknum guru, bahkan dosen yang sebaliknya. Mereka berkomunikasi dengan siswa atau mahasiswanya tanpa mementingkan norma kesopanan. Yang miris, baru-baru ini saya mendengar dari seorang mahasiswa, seorang oknum dosen dari kampus agama, yang beliau juga mempunyai jabatan di sana. Dengan lantangnya berbicara kepada mahasiswanya seolah-olah tidak ada langit setelah langit. Sangat miris bukan? Kita berharap dengan semakin tingginya pendidikan seseorang, maka karakter terutama kesopanan mereka juga berbanding lurus. Namun tidak semua. 

    Apakah Anda pernah mengalami hal serupa? Saya yakin diantara kita pernah menemukannya. Dilema. Di satu sisi kita masih memiliki kepentingan dengan oknum dosen itu, tapi di sisi lain kita ingin memberikan masukkan. Agar dunia pendidikan, khususnya bangku perkuliahan tidak hanya ajang untuk mendapatkan ijazah saja. 


Sebait sajak untukmu para guru dan dosen


Kami mencontoh apa yang kau lalukan

Kami meniru apa yang kau peragakan

Kami menciplak apa yang kau pertontonkan

Kami teladani apa yang kau pertunjukkan


Namun jika arang yang kau suguhkan

Namun jika gulita yang kau tampakkan

Namun jika jerebu kesopanan yang kau berikan

Namun jika polusi sikap yang kau keluarkan


Lantas di mana gelarmu itu?

Lantas di mana jabatanmu itu?

Lantas di mana pendidikanmu yang tinggi itu?

Lantas di mana selimut kebesaranmu itu?


Bukankah adab lebih tinggi dari ilmu?

Bukankah karakter lebih berharga dari pengetahuan?

Bukankah attitude lebih mulia dari sekadar hafalan?

Bukankah sikap lebih mahal dari teori yang kau ajarkan?

Bukankah manusia dilihat dari tingkah lakunya?


Belum terlambat!



Pekanbaru, 12 Februari 2025

di ruang renungan


Continue reading →

ORANG-ORANG YANG KEBANJIRAN: CERPEN RIO ROZALMI

0 comments

 


ORANG-ORANG YANG KEBANJIRAN

Cerpen: Rio Rozalmi


    “Aku tahu hujan adalah Rahmat Tuhan. Tapi hujan yang awet juga bisa menjadi musibah dan malapetaka,” kata istri Bujang sambil menoleh ke kiri melihat genangan air yang sudah menutupi aspal. Bujang hanya diam dengan pandangan tertuju ke depan.

    “Abang tahu, setiap bulan yang berakhiran ber, seperti September, Oktober, November, atau bulan ini, hujan lebih sering dibanding bulan lainnya. Jalan Soebrantas ini selalu digenangi air,” sambung istri Bujang. 

    Bujang tidak menjawab perkataan istrinya. Pandangannya menyorot tajam pada orang-orang yang mengendarai sepeda motor di depannya. Motor matic warna merah menerobos genangan air yang telah menenggelamkan separuh motor itu. Belum sampai melewati genangan air, motor mogok. Lelaki paruh baya yang mengendarai motor itu terpaksa turun dan mendorong motor tersebut dengan bantuan istrinya. 

    Bujang menurunkan kecepatan mobilnya. Kini pandangan Bujang tertuju pada sebuah motor bebek tepat sebelah kanannya. Motor itu ditunggangi oleh sepasang remaja. Mereka terus melaju tanpa menghiraukan genangan air dan hujan yang semakin deras. 

    “Abang memperhatikan apa?” tanya istri Bujang sambil menepuk pundaknya.

    “Lihatlah dua pasang manusia di depan kita, yang satu berani mengambil risiko walaupun mereka sudah tahu akibatnya. Dan yang satu lagi lupa ingatan. Lupa jika di Pekanbaru ini hanya ada dua musim, kalau tidak kemarau, ya hujan. Seharusnya mereka sudah sedia mantel.”

    Sepanjang perjalanan pulang, Bujang menyaksikan beberapa orang anak kecil yang bermain genangan air dengan senyum yang merekah. Anak kecil itu tidak menghiraukan bahaya yang bisa menghampirinya. Seperti disambar petir atau tenggelam atau digigit ular. 

Baca Juga: Cerpen: Peti

    Mobil Bujang berhenti tepat di bawah jalan fly over. Dua orang anak kecil langsung menghampiri. Dengan berbekal ember, mereka menyiramkan air ke kaca depan mobil. Terlihat air itu mengeluarkan busa ketika wiper naik dan turun. Anak itu mengetuk kaca samping kanan mobil dengan menengadahkan tangannya. Bujang memberikan selembar uang dua ribu dan bertanya di mana orang tua anak itu. Bujang terdiam sejenak, ketika anak itu menjawab, kalau orang tua mereka sudah pisah.

    Kaki kanan Bujang kembali menekan gas secara perlahan, bersamaan dengan lampu yang sudah berwarna hijau. 

    “Bang, sepertinya kita terlambat pulang,” ucap istri Bujang ketika sudah masuk ke kompleks rumah mereka.

    Bujang dan istrinya melihat warga kompleks yang sibuk menyelamatkan barang-barang. Karena air sudah masuk ke rumah warga. 

    Bujang dan istrinya langsung naik ke lantai dua rumah mereka. Beruntung semua barang elektronik yang ada di lantai satu sudah diamankan oleh pembantunya. Mereka duduk di teras lantai dua sambil menunggu air surut. Di temani teh hangat dan kentang goreng yang masih panas. 

    Terdengar suara keributan dari bawah. Bujang dan istrinya berdiri dan mencari sumber suara keributan itu. Mata mereka tertuju pada rumah berwarna abu-abu, dua rumah dari rumah mereka. Pak Ilham yang sedang adu mulut dengan istrinya. Mereka kalah cepat dengan air. Mereka pulang kerja mendapati rumah seperti kolam renang. Habis sudah semua barang elektronik direndam air. 

    Pak Ilham menyalahkan istrinya yang pulang tidak segera, tapi mampir dulu ke pusat perbelanjaan untuk beli baju baru. Sementara istrinya menuding Pak Ilham yang lalai. Dia tidak langsung pulang tapi singgah dulu ke coffee shop. 

    “Kasihan televisi dan kulkas mereka, ya Bang.”

    “Lebih kasihan mobil listrik yang baru mereka beli bulan ini.”

    Pandangan mereka tertuju pada dua manusia terkuat di bumi yang sedang perang dunia. Dari kejauhan terlihat Bu Dinda memegang sapu lantai sambil mengayun-ayunkan ke arah Bu Tari. Bu Tari tak gentar sedikit pun, dengan persenjataan sapu pel, ia hadapi kemarahan Bu Dinda.

    “Kita kebanjiran adalah salah kamu, Nyoya Besar!” teriak Bu Dinda.

    “Diam kamu! Kamu yang tidak pernah membersihkan selokan ini, sehingga sampah menumpuk!” balas Bu Tari dengan tangkai sapu pel mengarah ke selokan.

    “Bukankah ini sampahmu? Jadi kamulah penyebab air tidak lancar.”

    Lain pula ceritanya tetangga sebelah kiri rumah Bujang. Terlihat jelas dari teras lantai dua itu, betapa sibuknya Pak Rian menyelamatkan televisi, kulkas, kipas angin, dan dispenser dari air yang masuk ke dalam rumah. Selesai dengan semua itu, Pak Rian menyalakan kompor dan mengambil sebungkus mi instan. Berbarengan dengan genangan air yang sudah sebetis, semangkok mi instan lengkap dengan telur dan kerupuknya pun siap untuk disantap. 

    Pak Rian melangkah dalam genangan air ke ruang tamu. Di sana sudah menunggu istrinya. Ia sajikan mi instan itu seraya mengambil air putih hangat. Pak Rian selalu sigap dalam melayani, karena ia tidak ingin harimau atau singa keluar dari tubuh istrinya.

    “Potret itu sudah menjadi rahasia umum di kompleks rumah kita, jadi tidak tercengang lagi melihatnya,” kata istri Bujang sambil mengambilkan teh yang ada di meja teras lantai dua itu.

    “Semoga kamu tidak berteman dengan istri Pak Rian nanti di Neraka Jahannam.”

    “Tuntun aku berteman dengan istri Pak Redho, Bang.”

    Sembari menyerumput teh panas, Bujang dan istrinya memandangi rumah Pak Redho yang tepat di depan rumahnya.

    Pak Redho sedang menikmati kopi hangat dan goreng pisang bersama istri dan anaknya di saung depan rumahnya. Mereka baru saja selesai bahu-membahu menyelamatkan barang-barang dari genangan air. Semua pekerjaan akan terasa mudah dan cepat jika dikerjakan bersama-sama, berat sama dijinjing, ringan sama dipikul. 

    Sisa cahaya matahari membaur dengan kegelapan malam yang mulai datang. Menyatu dan membuat langit seakan-akan berwarna oranye. Perlahan memberikan tempat bagi kegelapan untuk merajai langit. Bujang dan istrinya tidak beranjak dari teras lantai dua itu. Mereka menunggu rembulan menyempurnakan purnamanya.

Baca Juga : Cerpen: Sri Memilih

    Bujang dan istrinya memang mencoba menjadi orang gila, agar mereka bahagia setelah melihat kenyataan begitu banyak fenomena rumah tangga, baik yang langgeng hingga maut memisahkan, atau yang berujung di meja hijau─padahal mereka sudah berusaha keras jadi orang waras.

    “Kapan-kapan kita kebakaran, yuk! Dikepung si jago merah!” kata Bujang. Istrinya mengangguk-angguk.   



Continue reading →
Saturday, 1 February 2025

Hidup Bahagia Berbalik Keji: Puisi Aryo Brawijaya Kelas V SD IT Imam Syafii Cendikia

0 comments

 

Hidup Bahagia Berbalik Keji

Karya : Aryo Brawijaya

Kelas: V

 

Hidup bahagia berbalik keji 

Banyak nyawa tak berdosa mati 

Oleh manusia tak punya hati 

Sudah lama aksi tak juga berganti 

 

Banyak nyawa sudah melayang 

Sekarang hanya tinggal sebuah kenangan 

Reruntuhan jadi tempat tinggalnya 

Banyak rudal menghancurkannya 

 

Aku, kami, dan kita sedang membantu 

Dengan doa yang kami panjatkan kepada Allah Tuhan Yang Satu 

Semoga kemerdekaanmu terbantu


Baca Juga: Puisi: Pasir Waktu


Continue reading →

Peti: Cerpen Rio Rozalmi

0 comments

PETI
Cerpen: Rio Rozalmi

    Bekerja sebagai penambang emas sangatlah berisiko. Tapi bagi Ujang tidak ada pilihan. Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah. Setahun lalu ia di PHK oleh perusahaannya tempat ia bekerja. Ia memutuskan untuk ikut bersama Pak Saka. Seorang cukong tambang emas di kampungnya. Ujang terpaksa. Tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan enam orang anaknya yang masih bersekolah, ia lakukan. 
    Ujang tahu. Tahu bahwa ada pekerja yang cedera atau tinggal nama. Cedera karena dihadang hewan buas. Menggaruk hutan itu, terkadang ada sarang babi. Syukur-syukur tidak ada babi di sarang itu. Tapi malangnya ketika ada babi yang punya anak. Ganasnya bisa tiga kali lipat. Serudukan babi membuat luka robek. Bukan hanya itu. Tak jarang pekerja mengalami kecelakaan di lokasi tambang. Pekerja yang tergelincir ke kolam galian tambang yang dalam atau tertimpa reruntuhan tanah yang mereka garuk itu.  Kejadian demi kejadian membuat Ujang makin kuat hati.
    PETI (Penambang Emas Tanpa Izin) itu sebutan pemerintah untuk pekerja seperti Ujang. Pemerintah melalui aparat menengak hukum serius membasmi kegiatan Peti. Tapi bagi Ujang itu hanya pencitraan belakang. Karena Ujang tahu. Tahu jika cukongnya selalu menyetorkan pada aparat setempat. Mulai dari Kepala Desa, Kecamatan, bahkan sampai penegak hukum. Ini sudah menjadi rahasia umum. Kegiatan Peti ini sudah hampir sepuluh tahun berjalan. Masih aman. Ketika akan ada razia dari penegak hukum, Ujang dan pekerja lain sudah duluan dapat bocoran informasi. Ujang dan pekerja lain akan sembunyi ke dalam hutan. Setelah razia selesai, Ujang dan pekerja lainnya pun kembali menggaruk hutan untuk mengumpulkan butiran emas. 
    “Bang, sudah lihat apa yang dibawa sungai malam ini?” tanya istri Ujang
    “Kayu?” Jawab Ujang
    “Itu ulah, Abang!” 
    Ujang tahu dan paham apa yang dimaksud oleh istrinya. Ujang tidak ada pilihan.
  “Kayu itu membawa berkah bagi kita. Karena tidak perlu lagi ke hutan untuk mencarinya. Berkah bukan?”
    “Iya berkah, tapi akan jadi musibah juga!”
    Ujang sangat paham akibat kerjanya itu, musibah pernah melanda kampung Ujang. Banjir yang membawa kayu-kayu besar merusak jembatan dan rumah warga yang berada di pinggir sungai. Luapan air sungai itu juga merusak jalan. Hewan buas yang memasuki pemukiman juga pernah. Babi, siamang, beruang, dan harimau terpaksa singgah di pemukiman warga untuk mencari bahan makanannya. Ketika musibah itu datang, pelaku peti berhenti sejenak. Mereka seakan menyalahkan alam yang tak bersahabat. 

Baca Juga: Sri Memilih: Cerpen Rio Rozalmi


    Selesai istirahat dua pekan. Ujang kembali berangkat. Tas yang berisikan pakaian dan sepatu boots warna hijau sudah siap menemaninya. Matahari memang belum menampakkan cahayanya dan jamaah salat Subuh belum keluar dari Masjid. Ujang harus berangkat. Karena ia akan bekumpul dulu di rumah Pak Saka si cukong itu. Ujang dan pekerja lain akan diberi arahan dan target yang harus mereka capai. Pembagian tugas. Tugas membawa persediaan makanan, membawa bahan bakar mesin, dan membawa perlengkapan lainnya. Semua sudah terkoordinir dengan baik.
    Perahu pompong kayu yang mereka tumpangi mendekat ketepian. Di tengah hutan belantara, puluhan orang sedang mengadu nasib demi menyambung kehidupan. Sunyi hutan pecah. Belasan mesin dompeng sedang asyik mengisap dan menyaring. Ujang menuju tenda peristirahatan. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang, lauk, dan sayur yang diam dalam plastik. Mereka santap. 
    Sepandai-pandai tupai melompat, pasti jatuh juga. Razia tim gabungan betul-betul diluar dugaan Ujang. Cukong yang menjadi harapannya itu kini sudah ditangkap. Informasi tak sampai. Entah apa yang terjadi sehingga cukong itu dapat ditangkap, apakah setorannya yang macet atau memang keseriusan pemerintah untuk melenyapkan peti. 
    Malam berlalu. Istri Ujang mengantarkan anaknya ke sekolah dasar yang tak jauh dari rumahnya. Ia bertemu dengan salah satu pekerja yang sama-sama berangkat dengan suaminya. Pekerja itu berjalan terseok-seok. Wajahnya pucat. Hanya dengan tangan kosong. Istri Ujang bingung. Pekerja itu menceritakan kejadian sore kemarin. 
    “Ujang suami saya di mana, Pak?” Tanya istri Ujang.
    “Saya tidak satu rombongan dengan Ujang, saat petugas datang, ada pekerja yang lari ke dalam hutan dan ada yang ke sungai. Saya menyeberangi sungai, tapi saya tidak melihat ada Ujang,” jawabnya.
    Isak tangis istri Ujang tak tertahan lagi. Kabar keberadaan Ujang hingga pagi ini belum jelas. Pulau sudah lenyap, daratan sudah tenggelam. 

    Matahari mulai turun. Cahayanya tak panas lagi. Puluhan simpanse mulai keluar dari persembunyiannya. Suara mesin dompeng terasa berbeda dari biasa. Ujang curiga. Apakah bahan bakar mesin habis atau mesin itu rusak? Dari kejauhan terlihat puluhan speed boats mendekat. Letusan tembakan peringatan terdengar jelas. Tim gabungan dari Polisi, TNI, Satpol PP, dan DLHK datang. Ujang dan pekerja lain kocar-kacir menyelamatkan diri. Ada yang lari ke dalam hutan belantara dan ada yang berenang ke seberang sungai. Speed boats itu berlabuh. Tim gabungan terus memburu pelaku peti ke dalam hutan itu. Mereka memusnahkan rakit mesin itu dengan cara dibakar dan sebagian dibawa untuk barang bukti. Pondok peristirahatan pekerja juga ikut dibakar. 


 




Continue reading →